Sekilas Info
  • Acara Gathering keluarga besar Balai Hatpen
  • Menurut United Stated Trade Representatives, 25% obat yang beredar di Indonesia adalah palsu.
  • Menurut peneliti di Detroit, orang yang selalu tersenyum lebar cenderung hidup lebih lama.
  • WHO merilis, 30 persen anak-anak di dunia kecanduan menonton televisi dan bermain komputer.
  • Anak yang mengalami gangguan tidur, cenderung memakai obat2an dan alkohol berlebih saat dewasa.
 
Media Iklan Anda
 
Statistik
  Pengunjung hari ini : 10
  Total pengunjung : 559
  Hits hari ini : 21
  Total Hits : 5075
  Pengunjung Online : 5

 
Polling

Apa yang paling anda inginkan saat ini?

 kemudahan pinjaman modal usaha

 Banyak dinas dan tunjangan

 Naik pangkat Setiap tahun

 Remunerasi

Lihat Hasil Poling

 
  • Sabtu, 31 Januari 2009 - 14:29:16 WIB
    Kelelahan dalam Penerbangan (flying fatigue)
    Diposting oleh : Administrator
    Kategori: Internal Hatpen - Dibaca: 42 kali

    Masalah kelelahan yang dialami oleh awak pesawat sebenarnya dapat dikurangi apabila segala aspek mengenai penerbangan dipahami dengan sebaik-baiknya. Dalam hal ini mereka yang bertugas mengatur schedule maupun yang menetapkan ketentuan jam terbang bagi awak pesawat memegang peranan yang sangat penting, pesawat terbang selain mahal harganya, biaya perawatannya juga sangat tinggi, oleh sebab itu untuk dapat memperoleh keuntungan ekonomis, pesawat harus diterbangkan semaksimal mungkin. Pesawat terbang modern umumnya dapat di terbangkan terus menerus selama beberapa ratus jam, sehingga penggunaan pesawat tidak menjadikan masalah dalam membuat suatu schedule penerbangan. Kelemahan justru terletak pada pembuatan schedule untuk awak pesawatnya.

    Konsep Dasar dari Kelelahan

    kelelahan atau fatigue merupakan suatu pengertian yang sangat umum yaitu berkurangnya cadangan energi tubuh yang mengarah ke penurunan kemampuan serta efisiensi kerja. Sebuah konsep mengenai kelelahan yang dapat diterapkan di dalam penerbangan dikemukakan oleh Bartlett, dia berpendapat bahwa perlu dibedakan antara kelelahan yang diakibatkan oleh kerja otot yang sedikit akan tetapi memerlukan derajat ketrampilan yang tinggi serta kosentrasi yang terus menerus, Tugas-tugas yang memerlukan derajat ketrampilan yang tinggi seperti menerbangkan pesawat memerlukan lebih banyak gerakan-gerakan komplek yang terkoordinasi dan tepat waktu, jadi bukan hanya sekedar gerakan-gerakan sederhana yang diulang-ulang. Oleh karena itu gangguan ketrampilan yang disebabkan karena kelelahan akan menyebabkan terganggunya gerakan-gerakan yang terkoordinasi tersebut, sehingga sekalipun tugas tetap dapat dijalankan, ketepatannya kurang dapat dipertanggung jawabkan.

    Selama beberapa tahun ahli fisiologi berusaha mencari sumber kelelahan dibeberapa bagian tubuh seperti di dalam otot serta sistim saraf . Kelelahan dari otot serta sistim saraf dapat dibuktikan melalui percobaan-percobaan, akan tetapi hal ini belum bisa menerangkan terjadinya kelelahan pada penerbang, karena dalam melakukan pekerjaan para penerbang justru tidak banyak mengunakan kekuatan otot. Kelelahan otot dihubungkan dengan tertumpuknya asam laktat dalam darah. Ketegangan mental yang berkepanjangan, kecemasan atau ketakutan, diketahui banyak meyerap cadangan energi tubuh serta meningkatnya kebutuhan tubuh akan oksigen.

    Kelelahan yang terjadi pada penerbang diduga lebih banyak di sebabkan oleh faktor mental (mental fatigue), dan keadaan nya diperberat oleh lingkungan yang kekurangan oksigen.

    Jenis-jenis Kelelahan

    kelelahan di dalam penerbangan umumnya dibagi dalam 2 kategori yaitu : acute skill fatigue dan chronic flying fatigue.

    Acute Skill Fatigue

    Acute skill fatigue atau single mission fatigue adalah suatu kecenderungan terjadinya penurunan kemampuan kerja yang memerlukan ketrampilan tinggi, baik secara kualitatif maupun kuantitatif, karena terus menerus melakukan suatu tugas dalam waktu yang lama. Penyebab kelelahan jenis ini terutama adalah faktor kejiwaan. Tugas-tugas yang monoton yang memerlukan perhatian dan kosentrasi yang terus menerus serta menuntut tanggung jawab yang besar merupakan faktor penyebab yang utama, ketegangan, kebosanan serta tubuh yang relatif kurang bergerak menimbulkan keengganan untuk melakukan pengamatan, serta tidak kritis terhadap apa yang terjadi disekitarnya. Faktor-faktor fisiologis seperti hipoksia, kadar gula darah yang rendah, kekurangan cairan tubuh atau baru sembuh dari sakit akan melemahkan ketahanan terhadap adanya beban psikologis diatas hal yang sama terjadi apabila keadaan lingkungan kurang menguntungkan,  misalnya cuaca buruk, turbulensi, bising di dalam ruangan kokpit maupun pada headphones, suhu yang terlalu panas atau dingin dan lain sebagainya.

    Gejala acute skill fatigue terdiri atas 3 hal :

    1.    Penurunan fungsi psikomotor : berupa penurunan koordinasi , kontrol yang kurang atau berlebih, terhadap stick maupun rudder.

    2.    penyempitan skala perhatian : berakibat timbulnya kecenderungan untuk melupakan bagian-bagian yang penting dari suatu tugas, tidak mampu melakukan pengawasan terhadap seluruh instrument, lambat melakukan cross check,cenderung terpaku pada salah satu instrument dan mengabaikan instrument lain.

    3.    Mau menerima standar performance yang rendah   

    Kebanyakan dari gejala-gejala tersebut dapat dihilangkan kembali, suatu kejadian yang memecah monotonnya dari suatu tugas, akan menyebabkan kembalinya ketrampilan serta perhatian keadaan sebelum terjadinya kelelahan, misalnya bila ada hal-hal yang bersifat emergency, nyaris mengalami kecelakaan, persiapan-persiapan untuk landing dan lain sebagainya.

    RAF mengamati, suatu keadaan yang berbahaya dari acute skill fatigue terjadi sesudah terbang 10 jam dengan pesawat bermesin piston atau sesudah terbang 3 sortir dengan pesawat tempur.

    Chronic Flying Fatigue

    Suatu keadaan dimana terdapat penurunan ambang kelelahan, terjadi karena menumpuknya sisa-sisa kelelahan dari acute skill fatigue yang berulang-ulang yang belum dipulihkan secara lengkap. Suatu keadaan acute skill fatique biasanya dapat dipulihkan dengan istirahat yang cukup (tidur malam yang nyenyak) akan tetapi apabila tugas operasional memerlukan pengunaan tenaga secara maksimal dan terus menerus dalam jangka waktu yang lama tanpa diikuti istirahat yang cukup. Keadaan ini akan menjurus kearah makin terkurasnya cadangan enersi tubuh yang akan menyebabkan terjadinya kelelahan kronis.

    Salah satu pendekatan untuk mengurangi terjadinya kelelahan dalam penerbangan adalah dengan membatasi jumlah penerbangan

    Di Indonesia ketentuan pembatasan jam terbang ditetapkan dalam CASR (Civil Avition Safety Regulation) part 42 section 42.6.0.3 yang antara lain berisi ketentuan bahwa penerbangan dengan 2 orang penerbangan tanpa flight engineer, jam terbang maksimum untuk penerbang adalah 110 jam selama 30 hari berturut-turut, serta 9 jam untuk 24 jam berturut-turut. Apabila terbang dengan flight engineer, jam terbang maksimum untuk penerbang adalah 120 jam dalam waktu 30 hari berturut-turut 10 jam dalam waktu 24 jam berturut-turut serta 1050 jam dalam periode 12 bulan. Sedangkan untuk flight engineer jam terbang maksimum adalah 125 jam selama 30 hari berturut – turut , serta 1100 jam dalam periode 12 bulan .

    Faktor-faktor yang Berpengaruh terhadap Timbulnya Kelelahan

    -        Faktor psikologis : Kecemasan, penundaan penerbangan yang tidak menentu, rute penerbangan yang membosankan.

    -        Faktor fisik  : Kondisi fisik yang tidak fit , jam terbang yang terlalu banyak, jam terbang istirahatnya (rest hour) yang kurang, beban pekerjaan serta tugas – tugas sampingan yang terlalu besar.

    -        Faktor fisiologis  : Hipoksia, masalah perbedaan waktu (time zone difference), suhu dan kelembaban udara, bising, dan getaran

    Gejala-gejala Kelelahan

    -       Terjadinya kesalahan-kesalahan dalam membuat keputusan.

    -       Dalam mengontrol pesawat : kecepatan reaksi bekurang, kontrol yang kurang halus, ketepatan waktu terganggu.

    -       Konsentrasi menurun, mudah lupa, timbul kesalahan-kesalahan dalam melakukan tugas yang sederhana dan rutin misalnya dalam membuat gliding angle serta speed pada saat pendaratan.

    -       Apatis waktu sudah membuat kesalahan, performance yang rendah.

    -       Menunda-nunda dalam membuat keputusan.

    -       Tidak teliti dalam mengawasi seluruh instrument

    -       Mudah tersinggung, kurang rasional

    -       Semangat kerja menurun

    -       Memotong hal-hal yang kurang dianggap perlu, melewati beberapa daftar check list.

    -       Denyut nadi serta frekwensi pernapasan meningkat

    -       Susah tidur, pencernaan terganggu , berat badan menurun

     

    Hubungan Kelelahan dengan Angka Kecelakaan

    Seorang penerbang yang baru menyelesaikan suatu penerbangan panjang ,lebih besar kemungkinan untuk membuat kesalahan dalam judgement maupun dalam mengontrol pesawat pada saat approach maupun landing. Kebutuhan akan performance terbaik adalah pada saat akhir dari suatu penerbangan dimana kemungkinan terjadinya kecelakaan justru paling besar. Atas dasar pengertian tersebut dapat diperkirakan bahwa makin banyak jam terbang makin besar pula kemungkinan terjadinya kelelahan yang akan cenderung memudah kan terjadinya kecelakaan. Ternyata data stastistik belum dapat membuktikan kebenaran perkiraan tersebut. Kecelakaan pesawat terbang memang sebahagian besar terjadi pada saat pendaratan ( approach : 36 %, landing : 19 % ) dan sebagian besar disebabkan kesalahan manusia, yaitu 87 %  ( 62 % oleh awak pesawat )akan tetapi apakah kesalahan awak  pesawat tersebut disebabkan oleh faktor kelelahan masih belum dapat dibuktikan. Penelitian lain mengungkapkan bahwa kecelakaan pesawat sebahagian besar terjadi pada saat segera sesudah take off atau pada penerbangan yang melebihi 10 jam. Kecelakaan yang terjadi pada waktu take off umumnya disebabkan oleh masalah teknis atau cuaca buruk,sedangkan pada penerbangan lama kelelahan mungkin memegang peranan yang penting ,selain itu juga ditentukan oleh faktor-faktor lain misalnya (musim dingin, musim hujan lebih banyak terjadi kecelakaan) terbang malam ,kondisi landasan,cuaca dan sebagainya.

    Usaha-usaha Pencegahan

    Kelelahan dalam penerbangan merupakan masalah yang menyangkut berbagai faktor, sehingga untuk mengatasi tidak mungkin hanya dengan membuat ketentuan-ketentuan atau peraturan-peraturan saja. Suatu kerja sama yang baik antara bagian engineering. Bagian kesehatan serta pihak pimpinan perusahaan diharapkan dapat memberikan jalan keluar sebaik-baiknya.

    Bagian engineering juga dapat membantu mengurangi terjadinya kelelahan dengan memberikan standard pemeliharaan serta perbaikan yang tinggi sehingga mengurangi kekhawatiran awak pesawat akan kondisi pesawatnya. Hubungan awak pesawat dengan bagian teknik harus dijaga dengan baik, segala keluhan tentang masalah teknik perlu mendapat perhatian yang sungguh-sungguh karena suatu kelalaian akan berakibat :

    -     perbaikan terhadap kerusakan akan terlambat dilaksanakan sehingga akan mengakibatkan bahaya yang seharusnya tidak perlu terjadi.

    -     Semangat para awak pesawat akan turun bila mereka merasa bahwa perusahaan kurang memberi perhatian pada masalah-masalah yang menyangkut keselamatan.

    Beberapa perusahaan penerbangan memberikan pengetahuan teknis yang  baik pada penerbangan (engineering pilot) yang kemudian akan bertanggung jawab terhadap perbaikan-perbaikan yang diperlukan serta apakah keluhan – keluhan dari bagian operasi ditangani dengan segera. Keadaan tersebut dapat mengurangi  kecemasan awak pesawat terhadap kemungkinan terjadinya gangguan teknis.

    Usaha-usaha  yang dapat dilakukan bagian  kesehatan untuk mengurangi terjadinya kelelahan antara lain adalah :

    -     Memilih personil yang  mempunyai fisik sehat serta kepribadian yang stabil

    -     Nama : Website : Komentar    (Masukkan 6 kode diatas)

     

  • Galeri Foto

 

© Copyright Balai Kesehatan Penerbangan.